Kepala BNPT Ingatkan Bahaya Rekrutmen Teroris Via “Online”

By | April 3, 2017

KEDIRI, KOMPAS.com – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris Komjen Pol Suhardi Alius mengatakan, ketika ini terjadi pergeseran pola rekrutmen anggota baru kelompok teroris.

Jika pada awalnya penerimaan anggota baru dikerjakan dengan tatap muka yg berarti adanya meeting secara fisik, kini berubah dengan memanfaatkan teknologi informasi.

Kini, rekrutmen anggota dikerjakan melalui dunia maya. Pola ini juga melahirkan adanya pengambilan sumpah setia atau baiat secara online.

“Mereka (perekrut teroris) telah intens mencuci otak melalui media sosial,” ujar Suhardi Alius ketika menghadiri Harlah Muslimat NU ke-71 di GOR Jayabaya Kota Kediri, Jawa Timur, Minggu (2/4/2017).

Mantan Kabareskrim Polri ini menyebutkan contoh orang yg terjerat paham radikalisme melalui dunia maya. Contohnya merupakan Iv yg ditangkap di Sumatera Utara dan seorang lainnya yg ditangkap di Batam.

Keduanya, menurut Suhardi, terjerat radikalisme setelah intensif mendapatkan doktrin secara online hingga kemudian siap melakukan serangan teror.

“Mereka telah dicuci otaknya,” kata Suhardi Alius.

Baiat online dalam kacamata penganut paham radikal, menurut Suhardi, dipakai karena sisi kemudahan dan keamanan gerakan. Apalagi, cara ini memanfaatkan kebebasan penggunaan internet di Indonesia.

“Kalau di China, Google tak boleh masuk, Facebook tak boleh masuk. Kalau di kita, kan, tak dapat seperti itu,” ujar Suhardi Alius.

Selama ini, BNPT sudah melakukan tindakan berupa kontra-narasi bagi melawan propaganda paham radikal di dunia maya.

Proses deradikalisasi dikerjakan dengan memberikan pemahaman secara utuh soal dalil agama, terutama pada dalil yg kerap dipakai oleh kalangan teroris.

Selain itu juga telah ada kerja sama dengan Kementrian Komunikasi dan Informatika bagi menanggulangi konten internet yg bermuatan paham radikal.

BNPT ketika ini juga menjadi bagian dari Satgas Kominfo yg dibentuk buat menanggulangi konten muatan radikal.

“Selain itu kami juga milik media sendiri bagi mengkonter propaganda radikal.” ujar Suhardi Alius.

Kompas TV 2016, Kepolisian Ungkap 170 Kasus Terorisme

Sumber: http://nasional.kompas.com

Leave a Reply